Archive for the 'Fiqhus Sunnah' Category

Dosa, Malapetaka Terbesar

7 Juli 2011

Setiap penyakit ada obatnya sebagaimana sabda Nabi saw : “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan diturunkan pula obatnya,” (HR Bukhari). Hanya ada satu saja penyakit yang tidak dapat diobati, yakni pikun.

Kebodohan adalah penyakit, dan obatnya adalah bertanya. Ada hadits tentang seorang shahabat Rasul yang meninggal karena “salah fatwa”, untuk suatu penyakit yang tidak boleh kena air, shahabat tersebut itu mandi junub padahal bisa saja diganti tayamum. Maka Rasul mengatakan:”Orang itu dibunuh oleh kawannya. Mereka akan dikutuk. Mengapa mereka tidak bertanya?”.

Al Qur’an adalah Obat. Jika digunakan secara benar, semua ayat Al Qur’an adalah obat, petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.

Do’a juga adalah obat karena ia dapat menghilangkan bencana. Dia juga dapat menjadi obat paling mujarab jika digunakan dengan tepat.

Baik sangka adalah obat, karena dia gambaran hati yang beriman. Sedangkan tertipu oleh Dunia adalah sebab-sebab penyakit. Dosa sangat berpengaruh terhadap kehidupan, Imam Ahmad menyebutkan hadits dari Abu Darda ra: “Sembahlah Allah seakan-akan kalian melihat-Nya. Rasakan bahwa dirimu sebagai orang-orang yang mati. Ketahuilah, kebaikan itu tidak akan musnah dan dosa itu tidak akan terlupakan.”

Dampak Maksiat
Maksiat mempunyai dampak buruk pada jiwa dan badan, baik di dunia maupun di akhirat. Hal tersebut tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali Allah sendiri. Diantara pengaruh tersebut adalah terhalangnya mendapatkan ilmu. Karena ilmu adalah cahaya Allah yang ditempatkannya di dalam hati. Sedangkan, maksiat adalah sesuatu yang dapat mematikan cahaya tersebut. Kegelapan kemaksiatan yang ada dalam hati seseorang sama dengan kegelapan indera matanya.

Abdullah bin Abbas berkata,”Kebaikan itu mempunyai sinar pada muka dan hati, kelapangan rizki, kekuatan badan, dan disenangi oleh setiap makhluk Allah. Sedangkan kejahatan akan mengakibatkan muka menjadi hitam, gelapnya hati, lemahnya badan, sempitnya rezeki dan kebencian di hati setiap makhluk.”

Perbuatan maksiat dapat menghalang-halangi seseorang melakukan ketaatan kepada Allah. Maksiat dapat mengurangi umur dan menghilangkan berkahnya. Sedangkan, kebaikan dapat memperpanjang umur.

Iklan

Jenis-Jenis Air

31 Maret 2010

1. Air Mutlak

Air mutlak dihukumkan sebagai air suci lagi mensucikan, artinya, ia suci pada dirinya dan mensucikan bagi yang lainnya. Adapun yang termasuk air mutlak adalah sebagai berikut:

  • Air Hujan, salju atau es, dan air embun. Hal ini berdasarkan firman Allah swt: “…dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu…” (Al Anfal 11).
  • embun

  • Air laut. “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw, ‘ya Rasulullah, kami biasa berlayar di lautan dan hanya membawa air sedikit. Jika kami pakai oir iru untuk berwudhu, akibatnya kami akan kehausan, maka apakah boleh kami berwudhu dengan air laut? Rasulullah saw bersabda, ‘laut itu airnya suci lagi menyucikan dan bangkainya halal dimakan.” (HR Bukhari, Muslim, Abu dawud, Tirmidzi, dan an Nasa’i).
  • Air Telaga sebagaimana diriwayatkan oleh Ali ra, “Rasulullah meminta seember penuh air zamzam, lalu diminum airnya sedikit dan dipakainya untuk berwudhu.” (HR Ahmad).
  • Air yang berubah disebabkan lama tergenang atau tidak mengalir seperti air berlumut atau daun-daun maka menurut ijma ulama air itu tetap termasuk air mutlak. Alasannya adalah setiap air yang dapat disebut air secara mutlak tanpa kaitan dengan unsur-unsur lain, boleh dipakai untuk bersuci

2. Air Musta’mal (air yang telah terpakai), yaitu air yang telah terpakai orang yang berwudhu dan mandi hukumnya suci lagi mensucikan sebagaimana halnya air mutlak tanpa adanya perbedaan dari segi hukum sedikitpun.

3. Air yang bercampur dengan barang yang suci,misalnya dengan sabun, lumut, tepung yang biasanya terpisah dari air. Hukumnya tetap mensucikan selama kemutlakannya masih terpelihara. Jika sudah tidak terpelihara maka dia suci untuk dirinya tetapi tidak menyucikan bagi lainnya.

4. Air yang bernajis, jikia hal tersebut menyebabkan berubahnya bau, warna, dan rasa air maka air tidak dapat untuk dipakai berwudhu karena menjadi air najis.